Muhdani (topi hitam) saat tiba di Bandara I Gusti Ngurah Rai Bali bersama seorang nelayan asal Sulawesi, Jumat (30/10/2026).
ARENAMADURA.COM, SUMENEP – Satu orang dari belasan nelayan asal Desa Tonduk, Kecamatan Pulau Raas, Kabupaten Sumenep, Jawa Timur, yang sebelumnya ditangkap oleh otoritas Australia, dilaporkan sudah menginjakkan kaki kembali di Tanah Air pada Jumat (30/10/2026). Nelayan tersebut diketahui bernama Muhdani yang bertindak sebagai nakhoda kapal. Setibanya di Bali, ia datang bersama seorang nelayan lain yang berasal dari Sulawesi.
Kabar tibanya Muhdani sontak membuat sang istri, Sanni, menangis haru. Berita bahagia tersebut ia peroleh via sambungan telepon dari keponakannya bernama Yanto yang merantau sebagai pekerja pasang stiker di Bali.
“Sekitar jam 4 sore tadi, saya ditelepon keponakan saya, Yanto, yang ada di Bali. Katanya, dia mau menjemput Mahdani di Bandar Udara Internasional I Gusti Ngurah Rai,” kata Sanni kepada Kompas.com di Sumenep, Jumat.
Rasa syukur dan lega menyelimuti perasaan Sanni usai mendengar sang suami kembali ke Indonesia, kendati ia belum mengantongi jadwal pasti kapan Muhdani akan bertolak pulang ke Desa Tonduk.
Untuk sementara waktu, Muhdani direncanakan tinggal di tempat Yanto bekerja di Bali.
“Mau di bawa ke Yanto dulu, mungkin sambil menunggu (ABK) yang lain,” ujarnya.
Sanni pun mengaku masih belum mengetahui penyebab mengapa suaminya dipulangkan lebih awal sementara 12 rekannya yang lain masih tertahan oleh aparat Australia.
“Setahu saya, suami saya pulang sendiri, yang mendapingi hanya keponakan saya. Tidak ada pendampingan dari Pemkab (Pemerintah Kabupaten) Sumenep,” ungkapnya.
Sanni sangat berharap pertemuannya dengan sang suami bisa segera terwujud setelah masa perpisahan yang panjang.
Kepulangan nakhoda tersebut turut dibenarkan oleh tokoh masyarakat Desa Tonduk, Benny Halim. Ia menegaskan bahwa nelayan yang berhasil dipulangkan memang benar Muhdani.
“Iya nahkodanya, Muhdani. Nanti kalau ada info lagi, saya kabari,” katanya.
Meskipun demikian, Benny belum dapat memastikan keberadaan pihak resmi yang mendampingi kepulangan Muhdani sampai mendarat di Pulau Dewata. Di sisi lain, pihak keluarga hingga kini masih cemas menanti kejelasan nasib serta jadwal pemulangan 12 nelayan Desa Tonduk lainnya yang masih berada di bawah penahanan Australia.*

