ARENAMADURA.COM, EKONOMI – Anda masih ingan slogan pengusaha UMKM asal Madura Kiamat tetap buka setengah hari. Itu semboyan warung Madura, salah satu usaha UMKM yang ada di tengah masyarakat. Baru-baru ini semboyan itu jadi viral karena Menko Cak Imin menyoroti warung Madura sebagai korban ‘pembunuhan’ dari ritel modern seperti Alfamart hingga Indomaret.
Warung Madura umumnya buka 24 jam. Meski ukurannya paling kecil, pendapatan mereka per hari bisa mencapai Rp2 sampai Rp5 juta. Untuk usaha yang lebih besar, keuntungannya bisa sampai belasan juta rupiah. Benar tidak, Alfamart dan saudara-saudaranya benar-benar menghancurkan UMKM?
“Besaran masing-masing warung tidak sama, tergantung lokasi. Cuma umumnya untuk kategori sedang, Rp2-5 juta per hari,” kata pendiri Perhimpunan Warung Madura Indonesia (PWMI) Moh Zainal Alim kepada Bloomberg Technoz, Rabu (5/11/2025).
Katanya, meskipun bentuk fisiknya sederhana, barang yang dijual cukup lengkap untuk kebutuhan sehari-hari. Banyak warung Madura juga membuka toko kecil yang menjual bahan bakar minyak (BBM) dalam bentuk pompa mini. Lokasi yang terletak di dekat jalan membuat warung ini sering dikunjungi pembeli di malam hari.
Warung Madura biasanya berjalan dengan sistem kerja sama atau bagi hasil, jadi jarang ada yang menggunakan sistem bos dan karyawan. Selain itu, berbeda dengan ritel modern yang teknisnya lebih mudah dilihat, mulai dari cara kerjanya yang masih tradisional, sistem buka 24 jam, serta wajib memiliki pom bensin mini atau station,
“
Zainal mengungkapkan selain mudah diakses, warung Madura memiliki harga kompetitif dibanding ritel modern. Bahkan, kata dia, kebanyakan warung madura menetapkan profit [laba] tidak lebih dari 10%.
“Banyak item ritel di kita sedikit lebih murah. Karena kita menetapkan profit, tidak boleg lebih dari 10%, bahkan untuk kategori-kategori tertentu di bawah 10%,” sebutnya.
Sebelumnya, banyak orang membicarakan pernyataan Menteri Koordinator Bidang Pemberdayaan Masyarakat, Muhaimin Iskandar atau biasa disebut Cak Imin, yang menyebut toko-toko modern yang kini merajalela di seluruh Indonesia berdampak negatif pada usaha Usaha Mikro Kecil dan Menengah (UMKM). Zainal mengatakan bahwa pernyataan tersebut mungkin cocok diucapkan 10 atau 15 tahun yang lalu.
“Kalau sekarang sudah lebih dari 22 ribu Indomaret dan lebih dari 23 ribu Alfamart. Sudah menyatu dengan kehidupan ekonomi masyarakat,” sebutnya.
Penulis: Ahmad Fauzi
Editor: Malik Al-Sadd
