ARENAMADURA.COM, Wakil Ketua Umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU), KH Zulfa Mustofa, mengajak masyarakat untuk melihat langsung kehidupan pesantren dan Nahdlatul Ulama (NU) di Madura. Menurutnya, pulau tersebut dikenal memiliki kehidupan religius yang menjadi contoh bagus tentang NU dan pesantren.
Pernyataan ini disampaikan dalam rangka memperingati Hari Santri 2025 sekaligus pelantikan Majelis Wakil Cabang Nahdlatul Ulama (MWCNU) Batang-Batang periode 2025-2030. Acara diadakan di Yayasan Al-Madrul Muttaqien Nyabakan Barat, Batang-Batang, Sumenep, pada hari Sabtu tanggal 01 November 2025.
“Saya sering bilang di mana-mana, kalau mau melihat orang NU yang cintanya luar biasa kepada ulama, datanglah ke Madura. Kalau mau melihat orang yang cintanya kepada kiai, kepada Islam, kepada negara tanpa batas, maka datanglah ke Madura,” katanya.
Menurut Kiai Zulfa, masih banyak orang di luar sana yang belum memahami dengan benar tentang pesantren dan NU. Ia menambahkan, momentum Hari Santri bisa dimanfaatkan sebagai kesempatan untuk memperbaiki kesalahpahaman itu dengan cara yang sopan dan penuh kasih.
“Akhir-akhir ini kita tahu banyak orang yang salah paham terhadap pesantren dan NU. Kita maklumi, karena memang belum paham. Tapi yang repot itu kalau pahamnya yang salah. Kalau salah paham masih bisa diluruskan, tapi kalau pahamnya yang salah, diberi pemahaman pun tidak mau paham,” jelasnya.
Ia menjelaskan, kesalahpahaman sering terjadi karena kurangnya pertemuan dan komunikasi. Namun, ketika seseorang lebih mengenal pesantren dan NU, rasa cinta tersebut justru semakin tumbuh.
“Banyak orang dulu tidak suka kepada NU. Tapi setelah kenal, jadi suka. Karena ternyata NU itu ramah, sejuk, dan merangkul semua,” ujarnya.
Kiai Zulfa juga memberi contoh hubungan yang baik antara warga NU dan Muhammadiyah. Ia mengatakan bahwa ia sering berinteraksi dengan warga Muhammadiyah secara dekat tanpa ada perbedaan atau batasan. Menurutnya, Muhammadiyah adalah saudara seperjuangan dalam menjaga agama Islam di Indonesia.
“Orang Muhammadiyah kalau bertemu saya sering salaman seperti orang NU. Bahkan saya sempat mengira mereka itu orang NU. Mereka bilang senang karena kita merangkul,” tuturnya.[Red]
