Sumber: Stopwacth.id
ARENAMADURA.COM, EKONOMI – Ancaman lembaga indeks global, Morgan Stanley Capital International (MSCI), untuk memangkas status bursa saham Indonesia dari emerging market menjadi frontier market telah memicu guncangan hebat di lingkaran otoritas keuangan. Isu klasik mengenai manipulasi harga dan minimnya transparansi kepemilikan saham kini menjadi pertaruhan kredibilitas nasional.
Krisis ini mencapai puncaknya pada akhir Januari 2026 dengan pengunduran diri empat petinggi otoritas, termasuk pucuk pimpinan Dewan Komisioner OJK. Menanggapi situasi darurat tersebut, Friderica Widyasari Dewi (Kiki) ditunjuk sebagai anggota Dewan Komisioner baru, didampingi Hasan Fawzi yang kini menakhodai pengawasan pasar modal.
Dalam upayanya menstabilkan pasar, Kiki menekankan pentingnya sinergi untuk memulihkan kepercayaan investor. “Kita sama-sama. Kita memahami permasalahannya dan bersama mencari jalan keluar,” tegasnya di Gedung BEI, Jakarta.
Melalui keterangan tertulis yang disampaikan Kepala Departemen Literasi, Inklusi Keuangan, dan Komunikasi OJK, M. Ismail Riyadi, OJK mengonfirmasi bahwa evaluasi MSCI justru menjadi katalisator untuk mempercepat reformasi struktural.
OJK telah menyusun delapan rencana aksi yang dikerucutkan ke dalam empat fokus utama: likuiditas, transparansi, tata kelola, dan sinergi. Berikut adalah poin-poin krusial dari strategi tersebut:
Peningkatan Likuiditas: OJK berencana menaikkan batas minimum free float emiten dari 7,5% menjadi 15% secara bertahap, yang ditargetkan rampung pada Maret 2026.
Transparansi Radikal: Untuk memberantas praktik manipulasi, klasifikasi tipe investor akan diperinci dari 9 tipe menjadi 27 subtipe guna mengungkap ultimate beneficial owner secara lebih akurat.
Ketegasan Hukum: Hingga akhir 2025, OJK telah menuntaskan 176 perkara hukum. Komitmen ini diperkuat dengan pelimpahan kasus manipulasi saham terbaru ke pihak kejaksaan.
OJK bersama BEI dan KSEI telah menyodorkan proposal solusi kepada MSCI yang mencakup keterbukaan data kepemilikan saham di atas 1% serta penyediaan data klasifikasi investor yang lebih granular. Langkah ini diharapkan mampu menjawab seluruh kekhawatiran investor global dan menjaga posisi Indonesia di pasar internasional.
Penulis: Herus Soleh
Editor: Malik Al-Sadd
