ARENAMADURA.COM, BUDAYA – Senyum Ki Sudirman tampil cerah saat diajak berkunjung ke rumahnya di Desa Polagan, Kecamatan Galis, Kabupaten Pamekasan. Di teras rumahnya yang sederhana, ia menyambut dengan semangat dan berkata, “Maaf, tempatnya masih sedikit berantakan.” Setelah sejenak, ia masuk ke dalam rumah lalu mengeluarkan wayang kulit. “Ini sudah rusak, tapi selalu saya pegang setiap hari,” katanya, Minggu (9/11/2025).
Ki Sudirman, yang sebenarnya bernama Novem Ali Sahos Sudirman, merupakan generasi keenam pewaris tradisi wayang kulit dari Madura. Generasi kelima, Ki Loncet, meninggal pada tahun 2001 dan tidak sempat mewariskan ilmu itu secara utuh.
“Ki Loncet sempat melatih orangtua saya, A Kadir, untuk menggantinya sebagai dalang. Tapi di tahun yang sama, ayah saya meninggal lebih dulu,” kata Ki Sudirman.
“Waktu itu tidak ada satu pun generasi. Tapi bagi saya, warisan ini tidak boleh punah,” ucap dia.
Sejak itu, budaya yang sudah berkembang sejak abad ke-17 hampir lenyap. Tidak ada generasi penerus yang tersisa. Namun, rasa seni yang terus mengalir dari kakek dan ayahnya membuat Ki Sudirman tergerak untuk menghidupkannya kembali.
Ki Sudirman berusaha dengan sungguh-sungguh mencari dan kumpulkan rekaman suara lama, lalu belajar sendiri tanpa bantuan orang lain. Ia mulai menguasai beberapa keterampilan dalang, seperti cara bicara dalang menggunakan bahasa Madura, jenis-jenis gending, serta aturan cerita dalam Ramayana dan Mahabharata Mustikorojo.
Karena terlalu sibuk mempelajari seni ini, Ki Sudirman mulai mengalami kesulitan dalam urusan ekonomi.
Pekerjaannya semakin memudar dan akhirnya ia jadi miskin. Mobil pikap yang dulu menjadi sumber penghasilannya terpaksa dijual agar bisa bertahan hidup bersama istrinya dan anaknya.
“Saya punya tiga mobil pikap untuk jasa angkut, tapi pendapatan menurun drastis,” kenang dia.
Sampai akhirnya, uang semakin berkurang hingga bahkan biaya pendidikan anak pun sulit dicukupi. “Sebagian dari uang hasil menjual mobil saya digunakan untuk belajar menjadi dalang. Di mana ada pementasan, saya pasti hadir untuk belajar,” katanya.
Meskipun ekonominya terus merosot, semangatnya dalam menjaga seni wayang kulit membuatnya tetap bertahan melalui berbagai kesulitan.
Di tengah kondisi yang sulit, tiba-tiba datang seorang kolektor wayang kulit bernama Kosala Mahinda yang menjadi semangat baginya.
Ia bahkan memberikan alat wayang kulit dan gamelan, serta mengirimkan pelatih dari luar Madura.
Menurut Ki Sudirman, Kosala Mahinda berperan besar dalam menyelamatkan seni ini. Sejak itu, ia semakin fokus mempelajari sabet, berbagai musik gending, aturan cerita, hingga ontonomo sebagai bekal untuk menjadi dalang yang benar-benar ahli.
“Penetapan ini menambah semangat. Budaya ini milik bersama, mari kita lestarikan,” ujar dia.
Sejak saat itu, wayang kulit Madura kembali tumbuh. Permintaan untuk pertunjukan mulai datang dari berbagai kota di Indonesia, termasuk dari Keraton Yogyakarta. Kini, wayang kulit Madura yang hanya dilestarikan di Kabupaten Pamekasan tersebut telah diakui sebagai Warisan Budaya Tak Benda (WBTB) pada bulan Oktober 2025.
Penulis: Dhika Prayoga
Editor: Malik Al-Sadd
