Sumber: Jatimupdate.id
ARENAMADURA.COM, SUMENEP, Masalah yang melibatkan PT KEI di perairan Kepulauan Kangean kembali muncul ke permukaan. Penolakan warga terhadap aktivitas eksplorasi seismik di wilayah laut mereka bukan tanpa alasan.
Kekhawatiran akan kerusakan lingkungan, penurunan hasil tangkapan ikan, dan ancaman terhadap ekosistem laut menjadi alasan utama di balik gelombang protes yang terus berkembang.
Bagi masyarakat di Pulau Kangean, laut bukan hanya sekadar tempat berair, melainkan sumber kehidupan mereka.
Mereka menggantungkan hidup dari hasil tangkapan ikan dan aliran perekonomian yang selama ini mendukung keluarga mereka.
Ketika kapal-kapal besar datang membawa alat eksplorasi canggih, yang suaranya memecah keheningan laut dan memicu kecemasan, tidak heran jika masyarakat mengeluarkan suaranya.
Menanggapi hal ini, Muhlis Ali, Ketua Umum Himpunan Generasi Muda Madura (HIGEMURA), memberikan pernyataan.
Muhlis menilai, penolakan warga Kangean adalah bentuk perlawanan terhadap ketidakadilan dalam pembangunan yang telah lama dirasakan oleh masyarakat Madura.
“Madura ini kaya, tapi warganya tetap miskin. Infrastrukturnya rusak, saat kemarau masih banyak daerah kekurangan air bersih, dan sekolah-sekolah banyak yang rusak. Tapi di saat yang sama, eksplorasi minyak dan gas dilakukan besar-besaran, baik di darat maupun di laut. Pertanyaannya: ke mana semua hasil itu mengalir,” tegas Muhlis, Rabu (5/11/2025).
“Jalan-jalan rusak, jembatan tak terawat, dan pelayanan publik terbatas menjadi pemandangan yang seolah lumrah,” bebernya
Muhlis mengatakan, komentar itu membangunkan perhatian masyarakat tentang ketidakseimbangan antara potensi dan kenyataan. Di satu sisi, Madura dikenal sebagai daerah yang memiliki sumber energi yang cukup banyak. Di sisi lain, wajah kemiskinan dan keterbelakangan masih terlihat setiap hari.
“Masyarakat menuntut agar pemerintah benar-benar hadir, tidak hanya melindungi kepentingan korporasi, tetapi juga memastikan hak-hak masyarakat lokal terjamin. Eksplorasi boleh saja dilakukan, namun harus transparan, berkeadilan, dan berpihak pada kelestarian alam serta kesejahteraan warga,” ujarnya.
Suara menolak dari Kangean bukan hanya sekadar emosi, tapi merupakan keluhan yang muncul karena merasa diserang oleh janji pembangunan yang tidak pernah terealisasi. Sepanjang puluhan tahun, kata Muhlis, Madura telah memberi kontribusi besar terhadap pendapatan energi nasional, namun tetap tidak mendapatkan bagian yang layak dari keberhasilan itu.
Penulis: Ahmad Fauzi
Editor: Malik Al-Sadd
