Sumber: Pinterest
ARENAMADURA.COM, OPINI – Polemik rokok dalam ruang tongkrongan orang-orang non-merokok selalu menjadi pernyataan resmi bahwa rokok merupakan hal-hal yang merusak dan mendatangkan penyakit di masa tua.
Segala upaya yang dibawa berdasarkan dalil-dalil keagamaan, respons jurnal kesehatan, atau bahkan pada kecaman lingkungan yang mengejawantahkan bahwa perokok tidak layak masuk circle orang-orang sehat.
Terkadang ada benarnya, memang rokok selalu menjadi momok untuk menguraikan beragam penyakit yang datang dan mengganggu kesehatan di masa tua sebab merokok. Maka dari itu, tidak merokok adalah jaminan kesehatan dan investasi untuk di usia tua.
Dalam beragam spekulasi yang ada. Orang-orang menyudutkan perokok layaknya ulat hijau dalam tanaman yang menghambat masa panen. Pernahkah orang-orang yang tidak merokok menelisik sisi moralitas kenapa merokok itu penting? Alih-alih karena faktor alasan kesehatan sehingga perokok diklasifikasikan menjadi dua bagian, yaitu aktif dan pasif.
Keberadaan orang-orang yang tidak merokok selalu bias pada pernyataan singkat melalui kesehatan, bahkan mereka tidak pernah memahami bahwa rokok adalah identifikasi finansial seseorang dalam permasalahan hidup.
Menjawab Pernyataan Kurang Elok
Orang-orang yang tidak merokok selalu mendakwahkan nilai kesehatan sebagai ajakan subtil agar para perokok tidak merokok. Bahkan sampai menjabarkan dalil-dalil keagamaan bahwa rokok adalah suatu yang amoral dan membahayakan diri termasuk suatu kemudaratan.
Beragam spekulasi hukum fiqih yang menjelaskan beberapa kalangan yang memperbolehkan bahwa itu haram dan golongan lain itu adalah boleh karena dalilnya yang lemah.
Jika hanya mendeteksi hal demikian, bagaimana bentuk perlawanan Rara Mendut yang menolak respons tradisi poligami pada masa Kerajaan Islam Mataram. Lalu, bagaimana rokok kemudian menjadikan Tumenggung Wiraguna menolaknya?
Perkataan Rara Mendut adalah “Puntung rokok itu bekas kena bibirku dan telah leceh dengan air ludahku yang manis dan harum”. Perkataan yang lantang yang tidak mau tunduk dengan praktik kekuasaan feodalisme demi menjaga harga dirinya sebagai perempuan yang berdikari.
Bahkan dalam pembelian rokok, sumbangsih perokok kepada negara berdasarkan hasil jual rokok berkisar 70% masuk kas negara, besar PDRB 10% dari cukai rokok dan PPN 9,9% dari harga rokok. Hal ini membuktikan perokok adalah orang-orang ikhlas dalam membuat negara maju, apalagi Indonesia Emas 2045.
Lebih Kaya dari CEO Perusahaan
Jika meminjam istilah kapitalisme Karl Marx, keuntungan antara kaum petani tembakau, kaum pekerja, dan pemilik modal (kapitalis) mendapatkan keuntungan walaupun dalam negosiasi terjadi ketimpangan karena sistem tidak begitu memihak pada hak panen.
Kita bisa mengistilahkan perokok ini menghormati para petani tembakau yang telah berupaya untuk menghasilkan panen tembakau yang terbaik.
Bahkan dalam arti finansial. Rokok dan bentukan varian rokok menjadi simbolitas bagaimana orang bisa dinilai kaya sebab rokok yang dikeluarkan di tongkrongan. Bagi perokok mengklasifikasikan varian rokok dalam tiga tingkatan bahwa orang tersebut kaya.
Contohnya varian Marlboro, Esse, Sampoerna Mild adalah tingkatan top tier rokok bagi kalangan menengah atas. Jika kita kemukakan apa yang sebelumnya dibahaa mengenai sumbangsih terhadap negara, kalangan varian ini adalah orang yang tidak kikir untuk negara. Jelasnya sudah taat negara taat pula oada agamanya sebagai orang dermawan.
Bahkan jika bandingkan dengan peran CEO perusahaan yang hanya mendapatkan keuntungan dari penanaman sahamnya terhadap proyek tertentu dan bersifat musiman. Berbeda dengan orang perokok, sumbangsihnya banyak untungnya hanya kepulan asap sambil berkata “sungguh nikmat Tuhan”.
Maka berbahagialah orang-orang perokok yang selalu mendapatkan stigma bagi orang-orang yang tidak pernah memahami fungsional rokok, bukan hanya untuk negara tapi juga untuk sifat dirinya sebagai dermawan, bahkan kalau perlu CEO dan politisi belajar dari tukang rokok.
Penulis: Darby Marhaen (Penikmat Hal Receh)
Editor: Malik Al-Saad
